Obat2an dari tumbuh2an ataupun obat2 modern yang diberikan oleh dokter , mungkin
Juga tidak berhasil menyembuhkan penyakit anda. Pasien yang dirawat di rumah sakit pun mungkin pula tidak tertolong ; meninggal atau tak kunjung sembuh dsb. Namun jangan lah anda sampai putus asa untuk terus berikhtiar meskipun hanya berdo’a.
Para dokter dan tabib telah mengakui, bahwa ilmu pengobatan medis masih terbatas sejauh atas kemampuan manusia. Meskipun banyak penemuan2 modern, namun tak pernah ada obat apapun yang betul2 dapat menyembuhkan tubuh manusia.segala macam obatitu hanya dapat menolong membasmi kuman2 penyakit atau merangsang beberapa organ tubuh untuk lebih memperkuat pertahanan alamnya. Kesenbuhan yang terjadi itu sesungguhnya bukanlah olrh obat, melainkanolrh kodrat diluar indra manusia.
Marilah kita ikuti salah satu bukti proses penyembuhan yang sebenarnya. Kalau jari sesorang terluka oleh pisau, apakah yang terjadi se-konyong2 darah mengucur untuk membersihkan diri dari kuman2atau bibit penyakit. Lalu darah ini membeku untuk menghentikan pendarahan.setelah semua itu sel2 jaringan penghubung disekitar luka akan bertambah dan memperbaiki kerusakanya. Urat2 darah kecil yang terluka segera muncul memberikan bahan2 untuk membangun kembali kepada sel2 yang sibuk memperbaiki tsb. Dan kini sembuhlah sudah dalam beberapa hari.
Bukti lain lagi kalau terjadi suatu luka yang kebetulan steril (bersih dari hama), maka sama sekali tidak ada reksi apapun oleh organ2 dalam tubuh. Se olah2 luka itu dipandang sebagai tudak berbahay.tetapi anehnya kalau terdapat beberapa bakteri berbahaya, misalnya stophylococcus, maka unsur2 defensif dari tubuh cepat2 bertindak.sel jaringan penghubung dari setiap sisi luka akan saling berhubungan satu sama lain. Segera fibrae halus menjadi jembatan. Mereka akan menjahit tepi2 luka itu secara alamiah dalam beberpa har. Kalau perbaikan sudah selesai, sel2 itupun berhenti dengan sendirinya.
Namun kalau terjadi infeksi, maka sel2 darah putihlah sekarang yang bangkit memebentuk garis pertahanan dari badan dan bergerak dengan cepat. Racun (toxin) akibat infeksi oleh bakteri itu segera masuk ke dalam aliran sampai mengenai tulang sungsum. Disini sejumlah sel2 darah putih yang kecilpun bangkit keluar dari tulang sungsum dan bergerak melalui darah menuju ketempat yang terluka. Disinilah mereka mengepung bibit penyakit itu. Kalau sudah tertangkapdimusnahkanlah dengan zat penghancur (anti toxin) yang diprodusir oleh sel2 putih.
Bukanlah demikian pula terhadap terjadinya vaksinasi (kekebalan) bagi sesorang ? jika tubuh kemasukan hama, maka sel2 darah putih segera berduyun menyerbu dan berusaha membunuhnya. Antara krdua macam jasad-mikro initerjadi pertempuran sengit.tubuh yang menjadi ”megan pertempuran” akan menjadi sakit atau tewas kalau ”tentara hama” amat kuat dan yang menang. Sebaliknya akan sembuh kalau berakhir dengan kemenangan sel2 tubuh.
Dalam peperangan tadi ternyata telah menyebabkan banyaknya sel2 darah putih mrnjadi berlipat ganda, sehingga sisakit yang telah srmbuh itu sekarang menjadi kebal karena telah memiliki cukup ”senjata” berupa anti toxin yang diprodusir oleh sel2 darah putih tsb. Demikianlah halnya vaksinasi, misalnya pada orang yang dicacar (sudah dibikin lemah) supaya memiliki kekebalan.
Sekelumit bukti cxontoh penyembuhan diatas memang sebagai ”sebab2 alamiah”. Tetapi siapakah yang mrnngaturnya begitu rapi? Kita tak dapat berpikir, bahwa tubuh manusia yang begitu ajaib dengan reaksi fisik, kimia dan listrik tanpa kendali itu ada hanya karena kebetulan saja; seperti halnya kita tak dapat memikirkan, bahwa buku ini ada tanpa ada pembuatnya.
Apa yang dilakukan oleh dokter terhadap luka itu tidak lebih dari paada bersifat membasmi hama dan mungkin dengan menjahitnya. Sesudah itu membiarkannya sampai alam dengan kekuasaan gaib melakukannya sendiri. Di bidang pembedahan cangkok jantung yang dilakukan secara modern pun tidak berguna bila tidak ada bantuan ber-juta2 sel hidup kecil oleh kekuasaan gaib dalam tubuh yang bekerja sama.
Ada orang yang masih ragu tentabg adanya kekuasaan gaib itu. Tetapi anehnya padda saat2 ia menghadapi ancaman maut yang tak seorang pun dapat menolongnya, secara instinctif ia menyebut nama tuhan, dimana kemudian ia menginsafinya dalam menderita antara hidup dan mati ini. Memang benarlah adanya. Kalau kita selalu mawas dara dan mau mendalami tubuh manusia atau diri kita sendiri, maka yakinlah kita, bahwa semesta alamini adalah mahluknya dan kholiknyatidak lain adalah tuhan alloh subhaanahu wata’aala yang mengatur dan menentukannya, yang menghidupkan dan yang mematikan.
Maka kalau kita sedang menderita sakit, disamping harus berikhtiar mengobati atu berobat, hendaklah kita tidak lupa pula dengan selalu berdo’a memohon dikuatkan dan diberi kesembuhan olehnya. Kalau kita benar2 beriman dan mau bertaubat atas segala dosa yang selama ini mengganggu rohai dan jasmni kita, menyebabkan sakit dll, maka do’a itu dapat menentramkan jiwa, meringankan penderitaan dan melenyapka ketakutan dan kecemasan, sehingga penyakit kita dapat berangsur sembuh atas ampunan serta kasih sayangnya. Bahwa hidup dan mati kita adalah ditangannya, allahu akbar.
Kamis, 11 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar